Saat ini jumlah peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia sedang meningkat. Apa yang menjadi penyebabnya? Dan apa saja yang dapat kita lakukan?

Diterbitkan tanggal 13 Jul 2021 Oleh Anna

Awan kelabu melingkupi bulan Juli 2021, bulan di mana kita sering mendengar kabar bahwa tetangga, kerabat, dan sahabat, sedang berjuang melawan COVID-19. Tak jarang pula beberapa di antara mereka yang terinfeksi, berujung pada kematian. Belum lagi sejumlah kabar seputar pandemi yang mewarnai laman surat kabar: angka kasus baru yang mencetak rekor setiap hari, kemunculan varian baru, rumah sakit (RS) yang penuh, antrian apotek yang mengular, dan berita lainnya yang tak henti-hentinya membuat kalut.

Ya, menginjak Juni 2021, Indonesia mengalami gelombang kedua COVID-19, di mana kasus baru terus meningkat. Puncaknya, pada 30 Juni, kasus baru penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 ini mencapai 21.807 kasus, lebih tinggi dari rekor sebelumnya yang menyentuh 14.518 kasus pada 30 Januari 2021.

Di tengah gelombang kedua COVID-19 yang tak terbendung ini, sejumlah daerah pun dinyatakan berstatus zona merah, atau zona dengan angka kasus tertinggi. Menilik laman covid19.go.id, per 27 Juni 2021 tercatat ada 60 daerah yang berstatus zona merah, di antaranya Aceh, Medan, Palembang, DKI Jakarta, Depok, Karawang, Tangerang Selatan, Lebak, Bandung, Garut, Kudus, Semarang, Banyuwangi, Bondowoso, Blora, Kendal, Yogyakarta, Sleman, Pontianak, Palangkaraya, dan Batam.

Sejumlah penyebab lonjakan kasus

Pegiat edukasi hoax COVID-19 dr. RA Adaninggar Primadia Nariswari, SpPD, menerangkan, lonjakan kasus yang terjadi bulan Juni 2021 disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, mobilitas masyarakat yang tinggi pada bulan Mei, bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri dan tradisi mudik yang tak bisa dibendung. Adaninggar, atau yang akrab dipanggil Ning menyebutkan, tradisi mudik ini diperparah lagi oleh faktor kedua, yaitu perilaku masyarakat yang semakin abai terhadap protokol kesehatan. Bisa dilihat dari aktivitas kerumunan warga di daerah tujuan mudik, tanpa memakai masker dan menjaga jarak.

Hadirnya varian baru virus corona yang cepat menular pun menjadi faktor ketiga lonjakan kasus. “Semua faktor ini menyebabkan gelombang virus corona yang terjadi saat ini, yang tampaknya belum puncaknya,” ujar Ning kepada Allianz Indonesia, Juni 2021. Ia memprediksi, gelombang kedua COVID-19 di Indonesia masih akan mencapai puncaknya dua minggu hingga satu bulan ke depan.

Ning mengakui, kehadiran varian baru virus corona saat ini memang menjadi tantangan bagi pengendalian COVID-19. Seperti diketahui, virus corona senantiasa berubah melalui mutasi, yang menghasilkan suatu varian baru yang berbeda dengan varian lainnya. Dari sekian banyak varian, World Health Organization (WHO) menetapkan empat varian yang diperhatikan atau variants of concern (VoC), karena lebih ganas dari varian lainnya. Beberapa VoC SARS-CoV-2 tercermin dalam tabel di bawah ini.

SARS-CoV-2 Variants of Concern

Varian Asal Negara Ditetapkan sebagai VoC
Alpha Inggris Desember 2020
Beta Afrika Selatan Desember 2020
Gamma Brazil Januari 2021
Delta India Mei 2021

Sumber: WHO

 

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat, keempat varian ini ditetapkan sebagai VoC karena memenuhi sejumlah kriteria, yaitu:

  1. Lebih cepat menular

Dari antara keempat varian itu, varian Delta disebut-sebut paling cepat menular. Sejumlah tenaga kesehatan seperti dikutip The New York Times, Juni 2021, menyebut bahwa varian Delta 50% lebih cepat menular daripada varian lainnya.

  1. Menyebabkan dampak penyakit yang lebih berat

Ini dibuktikan dari tingkat perawatan di RS dan angka kematian yang lebih tinggi saat ini. Detik melaporkan, pada pekan terakhir Juni 2021, tingkat keterisian RS atau bed occupancy rate (BOR) di enam provinsi sudah di melebihi 70%. Bahkan, dua provinsi memiliki BOR 90%.

  1. Menurunkan imunitas tubuh

Imunitas tubuh manusia terhadap COVID-19 terbentuk oleh infeksi sebelumnya atau oleh vaksin. Karena keempat VoC ini terbukti melemahkan imunitas tubuh, maka seseorang berpotensi terinfeksi kembali oleh virus corona.

Dengan sejumlah kriteria di atas, WHO pada April 2021 menyebutkan bahwa virus corona bisa menyebar di udara atau airborne, melalui transmisi aerosol. Aerosol adalah percikan pernafasan yang berukuran kurang dari 5 mikron, atau lebih kecil dari droplet yang berukuran 5 mikron-10 mikron. Sebagai perbandingan, rambut manusia berukuran 30 mikron-120 mikron. Aerosol bisa keluar saat seseorang berbicara. Sementara droplet bisa keluar saat seseorang batuk dan bersin.

Sejumlah studi seperti dikutip The Guardian menyimpulkan bahwa aerosol varian Delta bisa bertahan di udara hingga 16 jam. Kesimpulan ini dipicu oleh kejadian penularan virus corona varian Delta di Bondi Junction Westfield, Australia, yang terjadi pada saat dua orang berpapasan di jalan.

Protokol kesehatan tak boleh kendor

Mengingat virus ini bisa menyebar melalui aerosol, Ning kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun atau sanitiser, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Salah satu cara mengurangi mobilitas ialah dengan tetap di rumah saja, work from home, pembelajaran jarak jauh, dan menahan diri untuk tidak liburan selama kondisi genting.

Selain itu, Ning juga mengingatkan bahwa berada di ruangan tertutup berisiko tinggi. “Ini karena konsentrasi aerosol tinggi, udara tidak tertukar karena ventilasi buruk, dan AC sentral,” kata Ning. Keganasan virus corona VoC yang banyak ditemukan saat ini pun mendorong Satgas COVID-19 menghimbau masyarakat agar menggunakan masker dobel, dengan urutan pemakaian masker bedah di bagian dalam, dan masker kain di bagian luar. Terkait hal ini, Ning menjelaskan bahwa ide memakai masker dobel ini bertujuan untuk meminimalisir jumlah virus yang kita hirup. Agar tujuan ini tercapai, maka masyarakat perlu memperbaiki kualitas masker dengan cara menutup gap atau kebocoran antara masker dengan kulit, yang berpotensi menjadi saluran masuk virus corona.

Nah, salah satu cara menutup gap ini ialah dengan memakai masker ganda. Namun sebetulnya, jika masker yang dipakai sudah tiga lapis (3 ply) dan bisa menutup mulut, hidung, dan dagu dengan sempurna, maka kita tidak perlu memakai masker ganda.

Percepatan vaksinasi membantu mengendalikan penyebaran virus

Ning kembali menegaskan, bahwa segala penyakit yang disebabkan oleh virus, termasuk COVID-19, hanya bisa dilawan oleh daya tahan tubuh dan antivirus. Mengingat antivirus untuk SARS-CoV-2 belum ada, maka kita harus memperkuat daya tahan tubuh. Vaksin adalah salah satu cara memperkuat imunitas tubuh untuk melawan virus. “Tapi dengan situasi virus corona yang masih banyak di sekitar kita, memang vaksin tidak mungkin efektif memerangi penyebaran virus tanpa penerapan protokol kesehatan. Maka, untuk meningkatkan efektivitas vaksin, kita perlu membatasi jumlah virus yang masuk tubuh dengan cara mematuhi protokol kesehatan,” terang Ning.

Resistensi sejumlah masyarakat akan vaksin juga diakui Ning sebagai tantangan program vaksinasi dan jalan menuju terbentuknya kekebalan kelompok agar bisa mengakhiri pandemi. Menurutnya, warga yang menolak vaksin dengan alasan hak asasi manusia, seharusnya menyadari bahwa orang lain juga punya hak asasi untuk sehat dan tidak tertular virus.

Ia pun menyayangkan jika masih ada masyarakat yang meragukan efektivitas vaksin, dengan alasan orang yang sudah divaksin masih bisa terinfeksi dan jumlah kasus baru masih tinggi setelah program vaksinasi dimulai. “Padahal faktanya, risiko penyakit akibat virus corona bisa lebih parah jika seseorang tidak divaksin,” ujar Ning. Untuk itu, ia berharap pemerintah terus mempercepat program vaksinasi. Per 30 Juni, total masyarakat yang sudah divaksin dosis lengkap mencapai 13,4 juta penduduk, atau 7,4% dari target pemerintah yang sebanyak 181,5 juta penduduk. Salah satu upaya pemerintah dalam mempercepat program vaksinasi ialah dengan menghilangkan syarat surat domisili untuk penerima vaksin di sejumlah kota.

Tetapi yang perlu kita pahami, vaksinasi bukanlah panasea atau obat ajaib di musim pagebluk. Perlu usaha bersama dari pemerintah dan masyarakat untuk mengerem pandemi. Sebagai masyarakat, kita bisa ambil bagian dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan bersedia divaksin. Sementara sebagai pengambil kebijakan, pemerintah diharapkan bisa mengambil peraturan yang sinkron.

“Pemerintah harus mengeluarkan peraturan tegas yang bisa menyetop penularan. India sekarang sudah terkendali karena pemerintahnya menerapkan lockdown. Kalau misalnya Indonesia tidak bisa lockdown, seharusnya pemerintah mencari cara kreatif untuk membatasi masyarakt,” papar Ning. Kini, pemerintah telah menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, mulai 3 Juli hingga 20 Juli di Jawa dan Bali.

Pembelajaran tatap muka belum dianjurkan

Melihat kondisi darurat di sejumlah daerah, Ning pun mendukung rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) agar sekolah menunda pembelajaran tatap muka (PTM). Terkait ini, WHO mensyaratkan negara yang boleh melakukan PTM adalah negara yang punya positivity rate di bawah 5%. Sementara saat ini, positivity rate Indonesia masih di kisaran 20%. Positivity rate adalah rasio antara orang yang positif virus corona dibanding jumlah populasi.

Di samping itu, kebanyakan sekolah pun belum memenuhi persyaratan yang diberikan IDAI dan belum melakukan simulasi PTM. Sehingga, Ning menilai wacana sekolah tatap muka yang sedianya dilakukan Juli 2021 belum bisa diterapkan dan berbahaya untuk anak-anak.

Untuk mengendalikan penularan virus corona pada anak-anak, sejumlah produsen vaksin telah memberikan izin penggunaan darurat pada anak. Sinovac misalnya, sudah memberikan izin penggunaan untuk anak usia tiga tahun hingga 17 tahun. Selain itu, Pfizer bisa diberikan pada anak usia 12 tahun hingga 17 tahun. “Pemerintah Indonesia sendiri mengizinkan pemberian vaksin untuk anak usia 12 tahun hingga 17 tahun dulu, karena angka kematian di umur tersebut lebih tinggi,” terang Ning.

Yang perlu diperhatikan saat isolasi mandiri

Mengingat tingkat keterisian RS sangat tinggi saat ini, masyarakat menghadapi kesulitan dirawat inap di RS. Untuk itu, warga yang terinfeksi virus corona dengan gejala ringan dianjurkan untuk menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Akibatnya, akhir-akhir ini banyak berseliweran informasi soal obat, vitamin, dan suplemen yang diklaim bisa membantu penyembuhan COVID-19.

Persoalannya, setiap pasien memiliki kondisi berbeda sehingga tidak bisa disamaratakan. Berbeda pilihan obat pun menyebabkan perbedaan lama pemberian obat. Terkait hal ini, Ning berpesan agar masyarakat tetap mengonsumsi obat-obatan secara rasional. “Rasional di sini artinya sesuai dengan diagonisis, kondisi pasien, indikasi, jenis obat, dosis, cara, dan lama pemberian, di mana semua indikator ini bisa dinilai oleh dokter dibantu oleh apoteker,” ujar Ning. Ia juga berpesan agar masyarakat hati-hati menggunakan antibiotik, antivirus, dan antiradang.

Termasuk terkait hal ini ialah obat cacing Ivermectin yang baru saja mendapat izin uji klinis di delapan RS sebagai pendamping pengobatan COVID-19. Ning kembali mengingatkan bahwa antivirus definitif yang bisa mengobati SARS-CoV-2 belum ada. Jadi ia berpesan, selama aman, boleh saja mengonsumsi Ivermectin ini sebagai salah satu bagian dari pengobatan pendukung COVID-19. Tetapi, pasien tetap harus konsultasi ke dokter, agar jangan sampai pemberian obat ini lebih banyak membawa bahaya daripada manfaat.

Situasi saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Bagi kamu yang saat ini sedang berjuang melawan COVID-19, tetap semangat dan semoga lekas sembuh. Sementara bagi kita semua, mari ambil bagian di masa pandemi dengan mengurangi kegiatan di luar rumah, menjalankan protokol kesehatan dan segera divaksin.

Sebagai perlindungan finansial di masa pandemi, lindungi dirimu dengan asuransi yang memberikan manfaat COVID-19. Saat ini, kamu bisa menjalani isoman di rumah atau di RS dengan tenang bersama Allianz Indonesia. Karena, Allianz Indonesia menghadirkan Isolasi AMAN untuk nasabah terdiagnosis positif COVID-19 yang perlu melakukan isolasi mandiri. Biaya yang ditanggung antara lain tes polymerase chain reaction (PCR), konsultasi dokter, biaya pemeriksaaan diagnostic dan laboratorium, serta obat, vitamin, dan suplemen selama isoman. Dengan berpegangan tangan, kita bisa melawan COVID-19.

Sumber : www.allianz.co.id